Kamis, Januari 03, 2013

Sulitnya Implementasi QCC di Perkebunan & Pertambangan

Menyambung tulisan yang lalu tentang QCC. Dari obrolan warung sebelah bersama para penggerak Total Quality Management maupun Six Sigma, ada beberapa curcol dari rekan-rekan agen perubahan. Sulitnya melaksanakan Roadmap implementasi TQM di sebuah organisasi terutama di bidang perkebunan/plantation, pertambangan dan rumah sakit. Para kawan2 dari Astra, dan alumni perusahaan matahari terbit pun terkadang cuma bertahan dalam hitungan jari saat nyoba mencangkul di perusahaan yang kulturnya lain dengan manufacturing. 


Keluhan ini juga pernah saya terima saat menghadiri Indonesia Quality Convention (IQC) di Bali tahun 2011 lalu, waktu itu berjumpa dalam obrolan coffee break bersama dua petinggi senior RS Immanuel Bandung (kalo gak salah namanya Pak Rully Direktur RS). Ada hambatan2 yg lumayan menantang dari para Dokter-dokter senior untuk ikut menggerakkan QCC yaitu; 
-ketiadaan waktu, 
-keengganan mempelajari ilmu manajemen, 
-komitment para senior.
-posisi jabatan (Spesialis X bertemu degan Specialis Y)

Tantangan di dalam menggerakkan program dari hasil obrolan adalah sbb:

1. Komitment organisasi akan TQM yang belum menyatu dalam visi misi.
2. Budaya "otoritarian/ militeristik", TQM akan subur di dalam budaya kepemimpinan Partisipatif dan tenggelam dalam budaya Otoritarian. Inget, tujuan utama misi TQM ialah total partisipation seluruh anggota organisasi dalam berkarya.
3. Program TQM yang dimulai dari bawah, sehingga sinisme para karyawan cenderung muncul. Program TQM ialah dimulai dari atas, maka road mapnya jangan melakukan pelatihan dimulai dari bawah melainkan dari jajaran senior organisasi.
4. Jarak & waktu anggota  dalam satu tim; misal dalam Perkebunan satu Supervisor membawahi 5 anggota yang tersebar dalam 200-300 hektar. Dan waktu berjumpa pun sulit, biasanya sehabis pulang kerja. TQM akan tertatih tatih jika program diselenggarakan diluar jam kerja. 
5. Kondisi bisnis global yang sedang turun. Semakin membuat program TQM tertatih-tatih, bukan menjadikan TQM sebagai alat untuk mencari peluang baru, pelanggan baru, kesempatan baru melainkan menjadi barang yang terpinggirkan.
6. Program TQM yang terkesan cuma fokus pada PDCA step (7 langkah, 8 langkah, 10 langkah) dan selalu membicarakan tools (7 QC tools, 7 planning tools); salah mindset. Padahal TQM itu ialah Semangat bagaimana memuaskan pelanggan bukan Semangat melakukan presentasi ataupun pemahaman tools.

So... selamat berjuan bagi rekan2 agen perubahan dimana saja & keep learning yaaaa.

Tidak ada komentar: