468x60 Ads


WEB CHECKIN CITILINK & LEAN SIXSIGMA

0 Pendapat Sobat:

Citilink adalah pesawat kesukaan sy, juga Batik air. Kedua ini adalah rujukan perjalanan sy. Bukan hanya sebagai LowCost carier, namun pada pelayanan dan ketepatan waktu. Walaupun kadang molor juga, namun gk separah lainnya :).




Foto : Citilink dari infojalanjalan.com

Dalam Lean Sixsigma, moral yang dikembangkan ialah semua bisnis harus bisa memahami keinginan para pelanggannya dan mampu menjual value proposition, perbaikan terus menerus agar bisnis tetap jalan sepanjang masa.

Salah satu proses pelayanan pesawat ialah salah satunya fasilitas Web Checkin. Mungkin manfaat yang diharapkan pelanggan ialah:
1. Checkin nggak ngantri di air port
2. Kursi dapet bagian depan
3. Kursi bisa memilih
4. Kursi nggak dapat di tengah (Di jendela atau di gang)
Biasanya pemilihan kursi pada maskapai tanpa web checkin ialah dilakukan di airport, by request ke petugas maskapai, itupun jika tersedia.

4 Hal diatas ialah diantara dari beberapa Voice Of Customer (Keinginan pelanggan) pada sebuah segment customer. Tanpa update terus menerus tentang Voice of Customer, lambat laun bisnis memudar, layu tak berkembang, bahkan di wafatkan oleh para pelanggannya.
Nah saya sebagai customer pesawat yang lebih dari 10x terbang dalam setahun, sembari bertugas mengimprove proces bisnis perusahaan dengan Lean Sixsigma, hari ini, kedua kalinya mengalami hal yang menurut saya tdk nyaman. Keluhan sy ini adalah yang kedua. Saya beli tiket beberapa hari sebelum keberangkatan dan melakukan web checkin. Namun tiket yg didapat via web checkin: 2 kali kejadian berada di urutan paling belakang. Hari ini sy duduk di QG813 Cgk-Sub. Seat 31c.

Sebagai pelanggan, saya gk suka berada dekat toilet, kursi sempit dan tidak bisa diatur utk sedikit rebah kebelakang, krn kursi paling belakang mentok ke dinding. Apalagi lutut sama bangku "pas" seperti rumah sederhana yaitu RSS (Ruang Sangat Sempit). Namun di maskapai Batik air, ruangan menurut saya lebih bersahabat dengan lutut saya.



 Foto: Jarak Lutut dan Kursi depan Citilink (+/- sisa 5 cm)

Sy tweet ke @citilink, nanya bisakah di ganti seat nya? Dan diberi informasi bisa di airport. Setiba di airport Cengkareng, sekitar Jumat 20 May 2016, jam 14.30 sy nanya ke petugas citilink (cewek pakai jilbab di row 22) Dan mengatakan tidak bisa rubah seat kecuali bayar.

Looh???? Enak aja. Jebakan batman nih. I am very very Upset pada Web Checkin Citilink.

Jadi ngapain checkin di web kalo dpt seat paling belakang?
Its Non Value Aďded. garuk garuk kepala dan ada hal yg gak pas menurut saya di Citilink.

Gondok... dongkol dan pasrah kedua kali utk duduk di seat yg gk sy sukai.

"JANGAN GUNAKAN WEB CHECKIN" thats the point.
Now i am at home dengan selamat, dan prepare penerbangan Senin ke Jakarta lagi namun gak pakai Citilink. Batik air aja. Then Kamis ke Makasar.

My Trip My Adventure, terus berjuang mengimplementasikan Lean SixSigma wujud kecintaan pada pelanggan agar bisnis terus berkembang.





Terjebak BSC sekedar untuk Performance Management

0 Pendapat Sobat:



Sebagian besar perusahaan gagal dalam implementasi BSC secara sesungguhnya. Nilainya gak tanggung-tanggung, beberapa research menyimpulkan lebih dari 80% perusahaan gagal, sehingga BSC hanya sebagai penilaian kinerja karyawan saja. Sebatas itu.

Padahal implementasi BSC merubah semua hal dan terintegrasi pada banyak aspek bisnis manajemen. Wujud BSC hanya sekedar menilai kinerja, bukan sebagai alat mencapai tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Arus aktifitas BSC ialah >80% top down, bukan menyerahkan kepada karyawan untuk menetapkan aksi dan Key Performance Indicatornya. Secara umum implementasi BSC awal ialah menjelaskan Visi dan Misi, Kemudian merumuskan strategy atau taktik untuk mewujudkannya.  Kemudian setiap strategy atau taktik ditentukan ukuran keberhasilannya, berapa targetnya dan kapan akan dicapai.

Strategy dan ukuran keberhasilan (KPI) kemudian didefinisikan ke segenap program kerja sesuai target "kapan akan dicapai". Contoh dibawah ini, suatu perusahaan tiap tahun target penjualan naik 10%, dan salah satu strategynya ialah otomatisasi proses bisnis dengan ukuran keberhasilan ialah tidak ada penambahan karyawan dalam 6 tahun kedepan.

Selanjutnya setiap program kerja dituangkan dalam project charter yang menjelaskan:
Tujuan, Ukuran keberhasilan, Pihak yang bertanggung jawab, Budget yang dibutuhkan, proses-proses yang dilakukan, dan pihak-pihak yang berkait (stake holder). Proses-prose yang dilakukan dikembangkan dengan konsep prioritas, focus pada "wildly important process". Proses-proses yang dilakukan diterjemahkan lagi kedalam indikator keberhasilan proses.
Pihak-pihak yang terlibat kemudian ditetapkan tugas dan tanggung jawabnya, dengan terlebih dahulu dipetakan RACI nya. RACI ialah Responsible, Accountable, Consulted, Informed. Kerjasama team yang kuat diperlukan dalam eksekusi strategy ditunjang komitment tingkat leadership management.




3R dijalankan untuk kesuksesannya:
-Rewarding
-Recognition
-Respect to human

Sehingga saat berhasil, leaders management memberikan Rewards (Bonus,red) terhadap pencapaian eksekusi strategy. Nah soal rewarding ini, banyak perusahan kepleset mengintegrasikan dalam performance appraissal. Hati-hati. Lebih baik jangan menghubungkan dengan performance appraissal karena akan overlap dengan human capital development.
Sehingga dalam BSC anda akan menemui:
1. Visi
2. Strategy
3. Budgetting
4. Team kerja
5. Penghargaan
Untuk mendampingi aktifitas BSC, maka dibentuklah organisasi "netral" diluar struktur sebagai penyelia dan konsultan perubahan. Umum disebut OSM (Office Of Strategy Management).

LEAN SANGAT DIDUKUNG OLEH IT

0 Pendapat Sobat:

Dalam implementasi Lean di proses bisnis, salah satu eksekusi perubahan proses adalah mereduksi waktu mulai pesanan/ permintaan datang sampai permintaan diterima. Waktu ini disebut Lead Time.


IT software dan hardware cukup berperan penting dalam melakukan perampingan proses/ menurunkan jumlah tahapan ataupun mengurangi lead time proses.

Misal berkirim surat. Dulu sebelum IT datang mengirim surat ke kota lain butuh waktu 2-3 hari. Sekarang mengirim surat cukup via email. Go green kan? jadi hemat kertas.

Dulu sebelum ada ATM Bersama kita tidak bisa untuk mengakses bank selain bank penerbit ATM kita. Sekarang, ATM bersama sudah banyak, meskipun dikenakan tarif dalam setiap transaksi.

Dalam implementasi Lean, IT sangat berperan dalam menurunkan lead time proses dan bisa jadi menghilangkan proses-proses pengecekan yang tidak perlu. Misal di ATM saat kita akan memasukkan kartu maka layar monitor akan menunjukkan tanda eror jika jaringan bermasalah sehingga kita tidak memasukkan kartu ATM pada mesin yang "mandul".

Namun perlu dicermati selain menurunkan lead time proses maka tujuan Lean adalah menurunkan hal-hal yang tidak menambah nilai dalam proses. Misal:
1. Proses approval
2. Proses searching database
3. Proses checking, dsb.

lean is Better, Faster and Simple.
Makasih IT.

MENGENAL LEAN SEDERHANA DI LALU LINTAS

0 Pendapat Sobat:

Lean ialah disiplin metode dan tools yang digunakan untuk membuat proses lebih efisien dengan memerangi semua hal pemborosan waktu dan biaya. Pemborosan dari Lean ialah segala hal kegiatan yang tidak menambah manfaat bagi hasil akhir. Semakin banyak dilakukan semakin menambah waktu dan biaya proses.

Maka Lean ialah bagaimana semua kegiatan kita bernilai tambah bagi hasil akhir yang diterima pelanggan. Siapa yang menilai bahwa aktifitas kita itu memberi nilai tambah atau tidak? Ialah pelanggan kita, pengguna/ penerima hasil kerja kita.

Misalkan kita berangkat kekantor pada pagi hari maka pastinya dijalan akan ketemu macet, menunggu lampu merah, mengerem karena ada orang yang menyeberang bahkan kendaraan kita kempes ban. Semua yang membebani waktu kita dari aliran waktu menuju kekantor ialah pemborosan.

Nah... kalo Lalu Lintas kita mengadopsi Lean maka...
Tidak ada orang menyeberang di jalan karena ada jembatan penyeberangan.
Tidak ada lampu merah karena perempatan jalan memakai system fly over.
Tidak ada lubang di Jalan yang membuat kita mengerem.
Tidak ada kempes ban.
Tidak ada konvoy kendaraan yang membuat kita meminggirkan kendaraan kita, Tidak ada Bus Kota (kopaja) yang seenaknya berhenti di depan kita, dan sebagainya yang membuat kecepatan kita kadang lembat kadang cepat.

Lalu lintas lean ibarat air mengalir tanpa hambatan diperjalanan, kecepatan stabil konsisten diangka 50Km/Jam misalnya, namun impian lalu lintas yang Lean agaknya masih menjadi angan-angan di Indonesia, terutama Jakarta.

Gara-gara banyak hambatan, maka waktu tempuh makin lama, konsumsi bensin makin tinggi. Jika pakai Lean jarak ke kantor 10Km maka pastinya tidak sampai 15 menit kita telah tiba di kantor, gara-gara Lalu lintas gak lean maka jarak 10 Km ditempuh dalam 1 Jam. Dari seharusnya hanya 1 liter bensin, maka naik menjadi 4 liter bensin. Itulah pemborosan waktu dan biaya.

Ada 7 pemborosan yang sering ada di proses bisnis operasional sebuah usaha baik jasa maupun barang. Yaitu:
1. Waktu menunggu barang, informasi atau menunggu keputusan
2. Kesalahan/ defect
3. Stok inventory berlebih
4. Pergerakan yang tidak perlu
5. Pemindahan barang antar proses/ departemen
6. Produksi berlebih dari yang diminta
7. Proses yang berlebihan

Menggunakan Lean Method dan Tools setidaknya akan mampu:
1. Mengenali pemborosan
2. Melakukan penyusunan tahapan kegiatan lebih cepat dan efisien
3. Penurunan biaya proses tanpa mengorbankan harapan pelanggan
4. Minset karyawan bahwa Customer di prioritaskan, segala kegiatan harus berkacamata pelanggan.

Tahapan dalam menge-Lean kan proses ialah:
1. Petakan proses flow
2. Tentukan proses2 yang tidak memberi nilai tambah bagi pelanggan
3. Putuskan apakah proses yang tidak bernilai tambah bisa dihilangkan atau dikurangi
4. Susun kembali process flow jangka pendek dan jangka panjang.
5. Wujudkan perubahan.

Semoga lalu lintas di Indonesia mengadopsi Lean Management.






Mengenal TPM

0 Pendapat Sobat:

Rusak perbaiki, Rusak perbaiki, Rusak lagi ya perbaiki lagi! Ini merupakan management fire fighting penuh dengan tekanan lahir batin. Semua pekerja pastinya tidak ingin tertekan dengan keadaan serba urgent sehingga hal-hal strategis menjadi terbengkalai.

Boro boro melakukan inovasi atau perencanaan, lah wong kena tampar oleh keadaan serba urgent saja kita sudah hampir pingsan, paling tidak sebutir paracetamol sering menemani. Efek kondisi tanpa perencanaan atau management pemadam kebakaran sungguh memusingkan dan dampak lahir batin pun lambat laun akan menghampiri kita.

Kegerahan kondisi carut marut seperti ini berdampak pada larinya para pelanggan. Mungkin pelanggan tidak lari namun dalam benaknya jika masih ada perusahaan yang memberikan layanan lebih baik, putusan goodbye pun layak untuk kita terima. Pelanggan tidak bisa kita salahkan, mereka adalah raja yang harus kita layani dan mereka selalu benar. Hal ini gak bakal di amini bagi pekerja yang alergi akan perubahan untuk kemajuan bisnis, sumur tempat air kita timba untuk minum keluarga tercinta kita.

Kerusakan alat/ mesin yang berulang-ulang sangat tidak diharapkan oleh pelanggan. Dan setiap proses pasti punya konsep manajemen atau sistem kelola yang tangguh untuk membuktikan bahwa kita layak melayani pelanggan. Dalam dunia maintenance pelatan/ mesin dikenal dan sangat populer ialah manajemen pemeliharaan menyeluruh atau disebut Total Preventive Maintenance (TPM). Mungkin ada tempat lain yang lebih dikenal dengan Total Productive Maintenance, adalah sama saja, satu tujuan bagaimana menciptakan zero breakdown, zero failure dan zero accident. Tiga hal ini adalah impian dari pelaksanaan TPM, selaras dengan impian/ harapan pelanggan. Pasti!

Bagaimana TPM dijalankan?
Pondasi pelaksanaan TPM ialah 5S atau 5R.
Ciptakan lingkungan kerja yang Ringkas, Pengaturan tata letak & penyimpanan alat yang Rapi, Semua kondisi baik dan Resik (Bersih), dan ada penilaian berkala untuk me-Rawat serta diikuti dengan pendisiplinan agar Rajin melakukan 3R (Ringkas, Rapi, Resik).




Gambar diambil dari www.leanproduction.com

Aktifitas TPM secara total ada 8 kegiatan utama, yaitu:
1. Pelaksanaan pemeliharaan mandiri (Autonomous Maintenance)
    Misal kita punya mobil maka basic repair/ problem solving kita harus tahu sehingga tidak perlu repot ke tukang service. Minimal kita tahu inspeksi kondisi mobil, tahu buka Ban, dimana busi & alur pengkabelan.
2. Pemeliharaan mesin secara terencana (Planned Maintenance)
    Mobil kita tiap kelipatan 10 ribu Km diantar ke bengkel untuk mencegah kerusakan dan deteksi dini permasalahan. Anggaran kita siapin dan pastinya keluar uang 2 juta per 10ribu Km lebih baik dari pada mobil mogok atau mengalami kecelakaan.
3. Pemeliharaan mutu (Quality Maintenance)
    Hasil dari mobil yang berjalan baik/ berkualitas pastinya karena proses-proses sebelumnya dijalankan dengan baik dan perlu manajemen mutu proses dan peralatan melalui Inspeksi. Kinerja proses rutin di inspeksi/ diukur dan dipastikan sesuai standard. Misal getaran dan bunyi2 dan level aki di inspeksi.
4. Melakukan peningkatan kinerja berkelanjutan (Focused improvement)
    Setelah mengukur kinerja proses hasil inspeksi lalu dilanjutkan untuk menganalisa data dan melakukan perbaikan kinerja.
5. Pengelolaan peralatan sejak dini (Early Equipment Management)
    Sejak dimulai dengan perencanaan matang, maintenance dan operator/user mesin berdiskusi sejak awal untuk melakukan pembelian peralatan. Intinya jangan salah beli mesin dan jangan membeli mesin yang bermasalah.
6. Pendidikan dan Pelatihan (Training & Education)
    Menetapkan kompetensi, menilai kompetensi operator dan melakukan pelatihan untuk memenuhi kompetensi.
7. Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan
    Menganalisa berbagai potensi resiko dan melakukan pencegahan kecelakaan, pencegahan terhadap penyakit dan minimalkan polusi terhadap lingkungan sekitar (Sampah Depo, Sampah Bengkel, dll)
8. TPM di bagian administrasi
    Penyimpanan dokumen, 5R di Office.

Pemahaman diatas adalah dasar pengetahuan tentang TPM agar kita makin baik, berkelas dunia. Amin.