Rabu, Juni 22, 2016

"Njajal" Internet Baru Rumah Myrepublic

Hampir 2 tahun menggunakan First Media, maka saya coba beranjak menggunakan Sinarmas network, bayi yang beru setahun berdiri ikut berkompetisi dalam bisnis internet ini akhirnya saya pilih. Dengan bulanan hanya 223ribu, speed cepat 30 Mbps pun hadir melengkapi kehidupan rumah tangga.

Coba menyalakan Youtube streaming di smart TV, dan di 3 perangkat gadget lainnya, visual HD pun tampil sempurna tanpa buffering pada keempat smart equipment yang sedang online bersamaan. Download 7 Mb game google play, hanya kurang dari 2 detik sudah terdownload. WoW!!!!

Luarbiasa, stabil. Apa karena Myrepublic masih baru? Semoga. Apalah artinya sang Roket berkecepatan tinggi, namun di tengah jalan dia mati sejenak dan hidup lagi, akhirnya sang Roket jatuh juga.

Paket basic yang ditawarkanpun sangat menarik, bebas biaya pemasangan dan free channel TV selama 6 bulan serta diskon 30%. Sehingga harusnya membayar kisaran 380 ribuan maka hanya membayar 223 ribu saja. Value for money, yes I am agree.
 
Coverage myrepublic sebagian besar pada kompleks perumahan. Di Surabaya, Malang dan sekitarnya sendiri dibanding kompetitor seperti First media dan Indiehome, myrepublic masih dibawah rekan rekan pendahulunya, namun percepatan penambahan coverage tiap saat yang patur diacungkan jempol buat Myrepublic. Semoga myrepublic terus eksis, dan benar benar Value for Money. 

Bisnis Sinarmas banyak juga bidang properti, perumahan dan apartemen sehingga wajar peluang usaha ini dilirik Sinarmas. Bayangkan dari seluruh Indonesia ada ratusan ribu jiwa yang mendiami property puluhan ribu rumah yang dibangun sinarmas land, dan 1 dari 3 rumah menginnginkan internet hadir dirumahnya sehingga akan ada sekitar 30 ribu rumah sebagai market dari Myrepublic. itungan sederhana dan anggap saja masuk akal. :)

Efek dominonya, dari 30 ribu rumah yang menikmati Sinarmas network, dihuni 100 ribu jiwa, jika mereka semua puas akan myrepublic maka minimal 1 dari user myrepublic akan share keunggulan "networknya" kepada 5 orang, dan potensinyapun akan ada penambahan pelanggan minimal 100 ribu dari 30ribu pelanggan yang puas di tahun pertama. Semoga!

Bagi rekan2 yang ingin tanya kualitas myrepublic, silahkan email ke bambang.ecahyono at gmail.com  atau twiiter: @bembi_cahyo
Semoga saling memberi manfaat bersama. Dan ada juga kalo minat jadi sales nya :) monggo tak bantuin propose ke Myrepublic.
Keep update!

Senin, Juni 20, 2016

Seputar Istilah Kepelabuhanan

Bekerja di bisnis pelayaran khususnya dalam bidang pengiriman barang menggunakan kapal laut dan kontainer ataupun tidak menggunakan kontainer, ada beberapa istilah umum yang sering dipakai. Yaitu:


  1. Receiving : adalah aktivitas pergerakan Container dari hinterland / luar melalui in gate menuju Container yard (CY)/lapangan penumpukan untuk di stack/ditumpuk
  2. Loading : adalah aktifitas pergerakan Container dari Container yard (CY)/lapangan penumpukan menuju dermaga ke kapal untuk dimuat
  3. Unloading/discharge :adalah aktifitas pergerakan Container dari kapal menuju ke Container yard (CY)/lapangan penumpukan untuk di stack
  4. Delivery : adalah aktifitas pergerakan Container dari Container yard (CY)/lapangan penumpukan melalui out gate menuju hinterland
  5. Stevedoring : adalah pekerjaan membongkar petikemas dari palka kapal ke atas chasis/dermaga atau sebaliknya dengan menggunakan crane kapal atau crane darat
  6. Trucking/haulage : adalah pekerjaan mengangkut petikemas dengan menggunakan chasis dalam daerah kerja pelabuhan dari lambung kapal ke Container yard (CY)/lapangan penumpukan atau sebaliknya
  7. Shifting grounded       : adalah pekerjaan memindahkan Container dari bay/row/tier ke bay/row/tier yang lain dalam palka kapal yang dilaksanakan dengan menumpuk lebih dahulu ke dermaga
  8. Relokasi : adalah pekerjaan memindahkan Container dari blok/slot/row/tier ke blok/slot/row/tier lain di Container yard (CY)/lapangan penumpukan dengan tujuan pengelompokkan Container di suatu tempat atau pengosongan tempat penumpukan
  9. Angsur : adalah pekerjaan memindahkan Container dari suatu tempat ke tempat lain dalam Container yard (CY)/lapangan penumpukan tanpa menggunakan trailer/chasis
  10. Transhipment : adalah pekerjaan pembongkaran Container dari kapal pengangkut pertama disusun dan ditumpuk di Container yard (CY)/lapangan penumpukan dan dimuat dan dimuat di kapal pengangkut kedua
  11. Reefer: adalah Container yang dilengkapi mesin pendingin (freezer), container ini membutuhkan daya listrik agar freezer beroperasi.
  12. Reefer monitor : adalah pekerjaan memonitor kapasitas supply listrik dan temperatur di dalam Container reefer
  13. Lift on : adalah pekerjaan mengangkat Container dari tempat penumpukan ke atas chasis dengan menggunakan transtainer/top loader atau alat lain
  14. Lift off : adalah pekerjaan mengangkat Container dari atas chasis ke tempat penumpukan  dengan menggunakan transtainer / top loader atau alat lain
  15. Unstuffing      : adalah pekerjaan mengeluarkan barang dari Container dan disusun di atas alat angkutan
  16. Stacking : adalah pekerjaan menyusun Container di Container yard (CY)/lapangan penumpukan atau tempat penumpukan lainnya
  17. SP2 : Surat Penyerahan Peti Kemas, dikenal juga dengan istilah "tila" yaitu surat yang dikeluarkan oleh operator pelabuhan bahwa container tersebut diizinkan diserahkan ke importir. Didalam SP2 ini menerangkan pula kondisi fisik container saat diserahkan.  
  18. EIR : Equipment Interchange Receipt : surat yang dikeluarkan oleh pihak depo sebagai hasil dari pemeriksaan fisik/survey atas container kosong yang dikembalikan oleh importir EIR dan SP2 ini harus dilampirkan saat penarikan jaminan container di pelayaran
  19. SPPB : Surat Persetujuan Pengeluaran Barang, adalah surat yang dikeluarkan oleh BC yang mana setelah dilakukan pemeriksaan terhadap persaratan dokumen dan atau pemeriksaan langsung secara fisik terhadap barang impor tersebut telah disetujui untuk diserahkan kepada importir.  
  20. NPIK : Nomor Pengenal Importir Khusus, diterbitkan oleh Deperindag cq Dirjen Perdagangan Luar Negri sebagai bentuk persetujuan importir untuk mengimpor barang-barang tertentu seperti garment, textile, gula, elektronik, mesin dan barang-barang lainnya dimana tata niaganya diawasi oleh pemerintah. 
  21. HS : "Harmony system", digunakan untuk mengetahui besarnya PPN, BM, PPNBM dari masing-masing barang yang diimport; Dimana nanti akan dicantumkan pada PIB. CATATAN :Yang boleh melakukan cleareance adalah Perusahaan yang memiliki PPJK. Tidak semua Freight Forwarder dapat melakukan Cleareance.Khusus untuk personal effects, importir mengajukan PIBT & melampirkan dokumen kepindahan ke Indonesia.
  22. SSPCP : Surat Setoran Pabean Cukai dan Pajak, bukti BM, PPn, Pph dan pajak lainnya (jika ada) sudah dibayar   
  23. Cargodoring : Merupakan istilah untuk kegiatan memindahkan barang dari dermaga ke gudang/ lapangan penumpukan masih dalam areal pelabuhan.
  24. Draught/Draft : Merupakan ukuran kedalaman lambung kapal yang diukur dari permukaan air laut, skala draught umumnya tertera pada lambung kapal sehingga mudah untuk dibaca.
  25. Bolder : Adalah tempat diikatkannya tali kapal ke dermaga, biasanya terbuat dari baja, dan di tanam pada bibir dermaga.
  26. Fender : Adalah karet yang berfungsi untuk melindungi lambung kapal dari membentur dermaga, yang disebabkan gelombang laut, atau proses bongkar muat.
  27. Box/Crane/Hour : Merupakan satuan yang menunjukkan produktivitas jumlah box petikemas yang dapat di bongkar/muat oleh setiap container crane setiap jamnya.
  28. Receving/ Delivery : Kegiatan menerima barang dari luar ke dalam pelabuhan (receiving) atau sebaliknya (Delivery)
  29. Labuh : Posisi kapal yang melego jangkar disekitar wilayah pelabuhan, sebelum bersandar di dermaga.
  30. Tambat : Posisi kapal merapat ke dermaga, dimana tali cross kapal terikat pada bolder.
  31. Pandu : Petugas pelabuhan yang bertugas untuk menuntun kapal masuk menuju dermaga melalui alur pelabuhan. Petugas pandu bertanggung jawab atas keselamatan kapal mulai dari lokasi labuh hingga tambat di dermaga.
  32. Kapal Tunda : Kapal yang bertugas untuk mendorong, atau menarik kapal yang menuju dermaga. Kapal ini berukuran kecil namun memiliki daya yang besar. Karena tugasnya yang mendorong kapal (untuk merapat) maka setiap tepinya dilengkapi karet atau ban agar tidak merusak lambung kapal yang di tunda.
  33. Kepil : biasa juga disebut mooring service, adalah jasa dalam mengikatkan tali cross (tali kapal) ke bolder.
  34. Stripping: Kegiatan mengeluarkan (stripping)
  35. Stuffing : memasukkan (stuffing) barang kedalam petikemas.
  36. Gantung Sling : Artinya proses bongkar/muat tidak berlangsung, hal ini bisa disebabkan oleh cranenya rusak, menunggu muatan, atau hal yang lainnya
Reference bacaan:
https://mdk16.wordpress.com
http://www.fpsindonesia.co.id
https://pelabuhanku.wordpress.com

Jumat, Mei 20, 2016

WEB CHECKIN CITILINK & LEAN SIXSIGMA

Citilink adalah pesawat kesukaan sy, juga Batik air. Kedua ini adalah rujukan perjalanan sy. Bukan hanya sebagai LowCost carier, namun pada pelayanan dan ketepatan waktu. Walaupun kadang molor juga, namun gk separah lainnya :).




Foto : Citilink dari infojalanjalan.com

Dalam Lean Sixsigma, moral yang dikembangkan ialah semua bisnis harus bisa memahami keinginan para pelanggannya dan mampu menjual value proposition, perbaikan terus menerus agar bisnis tetap jalan sepanjang masa.

Salah satu proses pelayanan pesawat ialah salah satunya fasilitas Web Checkin. Mungkin manfaat yang diharapkan pelanggan ialah:
1. Checkin nggak ngantri di air port
2. Kursi dapet bagian depan
3. Kursi bisa memilih
4. Kursi nggak dapat di tengah (Di jendela atau di gang)
Biasanya pemilihan kursi pada maskapai tanpa web checkin ialah dilakukan di airport, by request ke petugas maskapai, itupun jika tersedia.

4 Hal diatas ialah diantara dari beberapa Voice Of Customer (Keinginan pelanggan) pada sebuah segment customer. Tanpa update terus menerus tentang Voice of Customer, lambat laun bisnis memudar, layu tak berkembang, bahkan di wafatkan oleh para pelanggannya.
Nah saya sebagai customer pesawat yang lebih dari 10x terbang dalam setahun, sembari bertugas mengimprove proces bisnis perusahaan dengan Lean Sixsigma, hari ini, kedua kalinya mengalami hal yang menurut saya tdk nyaman. Keluhan sy ini adalah yang kedua. Saya beli tiket beberapa hari sebelum keberangkatan dan melakukan web checkin. Namun tiket yg didapat via web checkin: 2 kali kejadian berada di urutan paling belakang. Hari ini sy duduk di QG813 Cgk-Sub. Seat 31c.

Sebagai pelanggan, saya gk suka berada dekat toilet, kursi sempit dan tidak bisa diatur utk sedikit rebah kebelakang, krn kursi paling belakang mentok ke dinding. Apalagi lutut sama bangku "pas" seperti rumah sederhana yaitu RSS (Ruang Sangat Sempit). Namun di maskapai Batik air, ruangan menurut saya lebih bersahabat dengan lutut saya.



 Foto: Jarak Lutut dan Kursi depan Citilink (+/- sisa 5 cm)

Sy tweet ke @citilink, nanya bisakah di ganti seat nya? Dan diberi informasi bisa di airport. Setiba di airport Cengkareng, sekitar Jumat 20 May 2016, jam 14.30 sy nanya ke petugas citilink (cewek pakai jilbab di row 22) Dan mengatakan tidak bisa rubah seat kecuali bayar.

Looh???? Enak aja. Jebakan batman nih. I am very very Upset pada Web Checkin Citilink.

Jadi ngapain checkin di web kalo dpt seat paling belakang?
Its Non Value AńŹded. garuk garuk kepala dan ada hal yg gak pas menurut saya di Citilink.

Gondok... dongkol dan pasrah kedua kali utk duduk di seat yg gk sy sukai.

"JANGAN GUNAKAN WEB CHECKIN" thats the point.
Now i am at home dengan selamat, dan prepare penerbangan Senin ke Jakarta lagi namun gak pakai Citilink. Batik air aja. Then Kamis ke Makasar.

My Trip My Adventure, terus berjuang mengimplementasikan Lean SixSigma wujud kecintaan pada pelanggan agar bisnis terus berkembang.





Senin, Mei 02, 2016

Terjebak BSC sekedar untuk Performance Management



Sebagian besar perusahaan gagal dalam implementasi BSC secara sesungguhnya. Nilainya gak tanggung-tanggung, beberapa research menyimpulkan lebih dari 80% perusahaan gagal, sehingga BSC hanya sebagai penilaian kinerja karyawan saja. Sebatas itu.

Padahal implementasi BSC merubah semua hal dan terintegrasi pada banyak aspek bisnis manajemen. Wujud BSC hanya sekedar menilai kinerja, bukan sebagai alat mencapai tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Arus aktifitas BSC ialah >80% top down, bukan menyerahkan kepada karyawan untuk menetapkan aksi dan Key Performance Indicatornya. Secara umum implementasi BSC awal ialah menjelaskan Visi dan Misi, Kemudian merumuskan strategy atau taktik untuk mewujudkannya.  Kemudian setiap strategy atau taktik ditentukan ukuran keberhasilannya, berapa targetnya dan kapan akan dicapai.

Strategy dan ukuran keberhasilan (KPI) kemudian didefinisikan ke segenap program kerja sesuai target "kapan akan dicapai". Contoh dibawah ini, suatu perusahaan tiap tahun target penjualan naik 10%, dan salah satu strategynya ialah otomatisasi proses bisnis dengan ukuran keberhasilan ialah tidak ada penambahan karyawan dalam 6 tahun kedepan.

Selanjutnya setiap program kerja dituangkan dalam project charter yang menjelaskan:
Tujuan, Ukuran keberhasilan, Pihak yang bertanggung jawab, Budget yang dibutuhkan, proses-proses yang dilakukan, dan pihak-pihak yang berkait (stake holder). Proses-prose yang dilakukan dikembangkan dengan konsep prioritas, focus pada "wildly important process". Proses-proses yang dilakukan diterjemahkan lagi kedalam indikator keberhasilan proses.
Pihak-pihak yang terlibat kemudian ditetapkan tugas dan tanggung jawabnya, dengan terlebih dahulu dipetakan RACI nya. RACI ialah Responsible, Accountable, Consulted, Informed. Kerjasama team yang kuat diperlukan dalam eksekusi strategy ditunjang komitment tingkat leadership management.




3R dijalankan untuk kesuksesannya:
-Rewarding
-Recognition
-Respect to human

Sehingga saat berhasil, leaders management memberikan Rewards (Bonus,red) terhadap pencapaian eksekusi strategy. Nah soal rewarding ini, banyak perusahan kepleset mengintegrasikan dalam performance appraissal. Hati-hati. Lebih baik jangan menghubungkan dengan performance appraissal karena akan overlap dengan human capital development.
Sehingga dalam BSC anda akan menemui:
1. Visi
2. Strategy
3. Budgetting
4. Team kerja
5. Penghargaan
Untuk mendampingi aktifitas BSC, maka dibentuklah organisasi "netral" diluar struktur sebagai penyelia dan konsultan perubahan. Umum disebut OSM (Office Of Strategy Management).

Selasa, Februari 17, 2015

LEAN SANGAT DIDUKUNG OLEH IT

Dalam implementasi Lean di proses bisnis, salah satu eksekusi perubahan proses adalah mereduksi waktu mulai pesanan/ permintaan datang sampai permintaan diterima. Waktu ini disebut Lead Time.


IT software dan hardware cukup berperan penting dalam melakukan perampingan proses/ menurunkan jumlah tahapan ataupun mengurangi lead time proses.

Misal berkirim surat. Dulu sebelum IT datang mengirim surat ke kota lain butuh waktu 2-3 hari. Sekarang mengirim surat cukup via email. Go green kan? jadi hemat kertas.

Dulu sebelum ada ATM Bersama kita tidak bisa untuk mengakses bank selain bank penerbit ATM kita. Sekarang, ATM bersama sudah banyak, meskipun dikenakan tarif dalam setiap transaksi.

Dalam implementasi Lean, IT sangat berperan dalam menurunkan lead time proses dan bisa jadi menghilangkan proses-proses pengecekan yang tidak perlu. Misal di ATM saat kita akan memasukkan kartu maka layar monitor akan menunjukkan tanda eror jika jaringan bermasalah sehingga kita tidak memasukkan kartu ATM pada mesin yang "mandul".

Namun perlu dicermati selain menurunkan lead time proses maka tujuan Lean adalah menurunkan hal-hal yang tidak menambah nilai dalam proses. Misal:
1. Proses approval
2. Proses searching database
3. Proses checking, dsb.

lean is Better, Faster and Simple.
Makasih IT.

MENGENAL LEAN SEDERHANA DI LALU LINTAS

Lean ialah disiplin metode dan tools yang digunakan untuk membuat proses lebih efisien dengan memerangi semua hal pemborosan waktu dan biaya. Pemborosan dari Lean ialah segala hal kegiatan yang tidak menambah manfaat bagi hasil akhir. Semakin banyak dilakukan semakin menambah waktu dan biaya proses.

Maka Lean ialah bagaimana semua kegiatan kita bernilai tambah bagi hasil akhir yang diterima pelanggan. Siapa yang menilai bahwa aktifitas kita itu memberi nilai tambah atau tidak? Ialah pelanggan kita, pengguna/ penerima hasil kerja kita.

Misalkan kita berangkat kekantor pada pagi hari maka pastinya dijalan akan ketemu macet, menunggu lampu merah, mengerem karena ada orang yang menyeberang bahkan kendaraan kita kempes ban. Semua yang membebani waktu kita dari aliran waktu menuju kekantor ialah pemborosan.

Nah... kalo Lalu Lintas kita mengadopsi Lean maka...
Tidak ada orang menyeberang di jalan karena ada jembatan penyeberangan.
Tidak ada lampu merah karena perempatan jalan memakai system fly over.
Tidak ada lubang di Jalan yang membuat kita mengerem.
Tidak ada kempes ban.
Tidak ada konvoy kendaraan yang membuat kita meminggirkan kendaraan kita, Tidak ada Bus Kota (kopaja) yang seenaknya berhenti di depan kita, dan sebagainya yang membuat kecepatan kita kadang lembat kadang cepat.

Lalu lintas lean ibarat air mengalir tanpa hambatan diperjalanan, kecepatan stabil konsisten diangka 50Km/Jam misalnya, namun impian lalu lintas yang Lean agaknya masih menjadi angan-angan di Indonesia, terutama Jakarta.

Gara-gara banyak hambatan, maka waktu tempuh makin lama, konsumsi bensin makin tinggi. Jika pakai Lean jarak ke kantor 10Km maka pastinya tidak sampai 15 menit kita telah tiba di kantor, gara-gara Lalu lintas gak lean maka jarak 10 Km ditempuh dalam 1 Jam. Dari seharusnya hanya 1 liter bensin, maka naik menjadi 4 liter bensin. Itulah pemborosan waktu dan biaya.

Ada 7 pemborosan yang sering ada di proses bisnis operasional sebuah usaha baik jasa maupun barang. Yaitu:
1. Waktu menunggu barang, informasi atau menunggu keputusan
2. Kesalahan/ defect
3. Stok inventory berlebih
4. Pergerakan yang tidak perlu
5. Pemindahan barang antar proses/ departemen
6. Produksi berlebih dari yang diminta
7. Proses yang berlebihan

Menggunakan Lean Method dan Tools setidaknya akan mampu:
1. Mengenali pemborosan
2. Melakukan penyusunan tahapan kegiatan lebih cepat dan efisien
3. Penurunan biaya proses tanpa mengorbankan harapan pelanggan
4. Minset karyawan bahwa Customer di prioritaskan, segala kegiatan harus berkacamata pelanggan.

Tahapan dalam menge-Lean kan proses ialah:
1. Petakan proses flow
2. Tentukan proses2 yang tidak memberi nilai tambah bagi pelanggan
3. Putuskan apakah proses yang tidak bernilai tambah bisa dihilangkan atau dikurangi
4. Susun kembali process flow jangka pendek dan jangka panjang.
5. Wujudkan perubahan.

Semoga lalu lintas di Indonesia mengadopsi Lean Management.






Senin, Oktober 27, 2014

Mengenal TPM

Rusak perbaiki, Rusak perbaiki, Rusak lagi ya perbaiki lagi! Ini merupakan management fire fighting penuh dengan tekanan lahir batin. Semua pekerja pastinya tidak ingin tertekan dengan keadaan serba urgent sehingga hal-hal strategis menjadi terbengkalai.

Boro boro melakukan inovasi atau perencanaan, lah wong kena tampar oleh keadaan serba urgent saja kita sudah hampir pingsan, paling tidak sebutir paracetamol sering menemani. Efek kondisi tanpa perencanaan atau management pemadam kebakaran sungguh memusingkan dan dampak lahir batin pun lambat laun akan menghampiri kita.

Kegerahan kondisi carut marut seperti ini berdampak pada larinya para pelanggan. Mungkin pelanggan tidak lari namun dalam benaknya jika masih ada perusahaan yang memberikan layanan lebih baik, putusan goodbye pun layak untuk kita terima. Pelanggan tidak bisa kita salahkan, mereka adalah raja yang harus kita layani dan mereka selalu benar. Hal ini gak bakal di amini bagi pekerja yang alergi akan perubahan untuk kemajuan bisnis, sumur tempat air kita timba untuk minum keluarga tercinta kita.

Kerusakan alat/ mesin yang berulang-ulang sangat tidak diharapkan oleh pelanggan. Dan setiap proses pasti punya konsep manajemen atau sistem kelola yang tangguh untuk membuktikan bahwa kita layak melayani pelanggan. Dalam dunia maintenance pelatan/ mesin dikenal dan sangat populer ialah manajemen pemeliharaan menyeluruh atau disebut Total Preventive Maintenance (TPM). Mungkin ada tempat lain yang lebih dikenal dengan Total Productive Maintenance, adalah sama saja, satu tujuan bagaimana menciptakan zero breakdown, zero failure dan zero accident. Tiga hal ini adalah impian dari pelaksanaan TPM, selaras dengan impian/ harapan pelanggan. Pasti!

Bagaimana TPM dijalankan?
Pondasi pelaksanaan TPM ialah 5S atau 5R.
Ciptakan lingkungan kerja yang Ringkas, Pengaturan tata letak & penyimpanan alat yang Rapi, Semua kondisi baik dan Resik (Bersih), dan ada penilaian berkala untuk me-Rawat serta diikuti dengan pendisiplinan agar Rajin melakukan 3R (Ringkas, Rapi, Resik).




Gambar diambil dari www.leanproduction.com

Aktifitas TPM secara total ada 8 kegiatan utama, yaitu:
1. Pelaksanaan pemeliharaan mandiri (Autonomous Maintenance)
    Misal kita punya mobil maka basic repair/ problem solving kita harus tahu sehingga tidak perlu repot ke tukang service. Minimal kita tahu inspeksi kondisi mobil, tahu buka Ban, dimana busi & alur pengkabelan.
2. Pemeliharaan mesin secara terencana (Planned Maintenance)
    Mobil kita tiap kelipatan 10 ribu Km diantar ke bengkel untuk mencegah kerusakan dan deteksi dini permasalahan. Anggaran kita siapin dan pastinya keluar uang 2 juta per 10ribu Km lebih baik dari pada mobil mogok atau mengalami kecelakaan.
3. Pemeliharaan mutu (Quality Maintenance)
    Hasil dari mobil yang berjalan baik/ berkualitas pastinya karena proses-proses sebelumnya dijalankan dengan baik dan perlu manajemen mutu proses dan peralatan melalui Inspeksi. Kinerja proses rutin di inspeksi/ diukur dan dipastikan sesuai standard. Misal getaran dan bunyi2 dan level aki di inspeksi.
4. Melakukan peningkatan kinerja berkelanjutan (Focused improvement)
    Setelah mengukur kinerja proses hasil inspeksi lalu dilanjutkan untuk menganalisa data dan melakukan perbaikan kinerja.
5. Pengelolaan peralatan sejak dini (Early Equipment Management)
    Sejak dimulai dengan perencanaan matang, maintenance dan operator/user mesin berdiskusi sejak awal untuk melakukan pembelian peralatan. Intinya jangan salah beli mesin dan jangan membeli mesin yang bermasalah.
6. Pendidikan dan Pelatihan (Training & Education)
    Menetapkan kompetensi, menilai kompetensi operator dan melakukan pelatihan untuk memenuhi kompetensi.
7. Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan
    Menganalisa berbagai potensi resiko dan melakukan pencegahan kecelakaan, pencegahan terhadap penyakit dan minimalkan polusi terhadap lingkungan sekitar (Sampah Depo, Sampah Bengkel, dll)
8. TPM di bagian administrasi
    Penyimpanan dokumen, 5R di Office.

Pemahaman diatas adalah dasar pengetahuan tentang TPM agar kita makin baik, berkelas dunia. Amin.