Rabu, Maret 21, 2012

MENYALAHKAN PENDIDIKAN KARENA NGGAK SUKSES

Di akhir minggu ini adalah hari-hari terakhir saya berada di Toba karena akan berpindah ke Learning Center baru yang lebih menantang dan mudah-mudahan lebih layak saya berada disana. Amin. Banyak rekan2 memuji ataupun sekedar bertanya mengapa saya pindah dan satu yang menggelitik pikiran saya kemarin sore ialah ada statement dari rekanan yang berkata;

"Enak ya, Bapak Sarjana, Master lagi, sedang saya cuma SMA. Lah Saya mana mungkin bisa secepat Bapak dan sangat susah meniti karir, lah wong cuman lulusan SMA"

Sebuah curhatan dari "konco' seperusahaan yang telah belasan tahun bekerja hingga posisi terakhir sebagai seorang staff warehouse. Alasan Pendidikan yang rendah agaknya umum dipersalahkan sebagai penyebab ketidak suksesan seseorang. Yang pendidikan S1 bilang, Saya hanya lulusan S1 dari kampus biasa-biasa, pastilah kalah sama yang dari universitas ternama. Sang S2 pun nggak kalah curhat, Ya udahlah saya kan cuma S2, wajar nggak sesukses yang S3. Gak sampai disitu, si S3 bilang; saya hanya S3 dari dalam negeri, pastilah kalah sama S3 dari luar negeri. Kalo ini kita teruskan, maka tidak akan pernah habisnya. Mau S1, S2, S3, S4, bahkan eS teler sekalipun, itu semua hanya mitos.

Di dalam masyarakat terutama di negara berkembang, banyak sekali masyarakatnya yang terjangkit penyakit mitos-mitos yang menyesatkan. Di antara mitos itu adalah Mitos pendidikan, "Saya tidak bisa sukses karena pendidikan saya rendah"
"Saya nggak bisa berhasil pak, soalnya cuma jebolan SMA"
"Tidak mungkin bagi saya yang lulusan SMA ini, pasti kalah bersaing, apalagi mausukses, Jauuuuuuuuh"

Jika mitos itu telah dijadikan pedoman hidup, maka nasib kita akan sulit berubah. Sikap mental negatif seperti di atas, jelas merupakan pengertian yang salah. Apalagi jika sudah masuk ke alam bawah sadar kita, maka akan membawa dampak sangat negatif dalam kehidupan kita secara menyeluruh. Membuat kita kalah dan gagal sebelum berjuang!

Coba kita lihat sejarahnya Bang Andrie Wongso yang tidak tamat SD ini. Dalam memasuki dunia bisnis, ada dua mitos yang berpengaruh paling besar, yaitu masalah modal dan pendidikan. Andrie justru tidak memiliki keduanya saat memulai usaha dulu. Yang dia miliki hanyalah ide membuat kartu kata-kata mutiara dan keberanian untuk mencoba. Dia memiliki kemampuan kungfu, dan potensi diri itulah yang dia manfaatkan. Dia mengajar kungfu secara privat untuk mendapatkan modal awal.

Jadi dia berangkat tanpa modal, tanpa uang, tanpa pendidikan formal yang memadai, tapi mana yang mendahului usaha nya? Ide! Dan keyakinan bahwa dia bisa sukses, dia menancapkan kepercayaan diri berhak untuk sukses! Dengan pemahaman itu, muncul keberanian untuk mencoba.

Dari penolakan-penolakan dan melalui proses perjuangan yang luar biasa ulet, ulet, dan ulet, usaha itu baru bisa berkembang baik. Kegagalan dan penolakan adalah konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Kita hanya punya dua pilihan, berhasil atau gagal. Kuncinya dalah action dan mental yang positif. Sebab kedua pilihan itu bisa jadi "benar" karena di balik setiap kegagalan terdapat proses pendidikan, sebuah pelajaran untuk kita berbuat dan bertindak lebih bijak di kemudian hari.

Seperti kata-kata mutiara yang sering Bang Andrie ucapkan: "Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir, tetapi dari proses perjuangannya". Jika itu disadari oleh semua orang, maka tidak ada lagi yang namanya larut dalam frustasi, kecewa, depresi, apatis, kehilangan motivasi, apalagi putus asa.

TETAP MENJADI YANG TERBAIK.
Memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Perlu motivasi yang kuat, komitmen pada tujuan, serta melewati proses latihan dalam praktek kehidupan yang nyata. Sebagai manusia yang mengerti, menyadari, dan dapat berpikir jernih, maka kita harus bisa dan berani menentukan sikap dengan segenap tenaga, waktu, dan pikiran untuk tetap mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Ilmu untuk memelihara motivasi diri bisa dipelajari oleh siapa pun. Salah satu latihan yang paling mudah untuk menguatkan diri sendiri adalah melakukan self talk. Kita gali potensi-potensi positif dalam diri kita dengan melakkukan dialog dengan diri kita sendiri.

Yakinkan bahwa diri kita memiliki kemampuan untuk sukses. Jika orang lain bisa sukses, kita pun mempunyai hak untuk sukses sama seperti mereka.

Keyakinan kepada Tuhan, serta doa dan praktek dalam kehidupan ini merupakan upaya yang mampu memberikan kekuatan motivasi diri yang luar biasa.

Sikap mental lain yan perlu kita pelihara adalah menyadari bahwa sukses yang kita raih bukan hanya sekedar mengandalkan diri sendiri, selalu ada andil orang lain di dalamnya. Rendah hati adalah kata kuncinya, tetapi sebaliknya, tidak rendah diri pada saat mengalami kegagalan.

Dengan demikian tidak hanya semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan ini, yang pasti kualitas kehidupan kita akan semakin baik, semakin sukses, yang pada akhirnya akan bermanfaat pula bagi orang lain.

10 kunci untuk kita mencapai kesuksesan.

1. Optimism. Think positive.
2. Faith. Believe in yourself, God and your country.
3. Planning. Know what’s important each day; set your priorities accordingly.
4. Determination. Have the courage to stand alone when taking the big risks in life.
5. Vision. Think big, dream big, keep success in your mind.
6. Attitude. If you think you can’t, you’re right. Winners have positive attitudes.
7. Goals. Set goals. Plan how to achieve them.
8. Perseverance. Try and try again until the goal is achieved. Never give up.
9. Knowledge. Learn to accept your mistakes, but make them only once.
10. Enthusiasm. Choose work you like. Enjoy the challenges.

Mitos pendidikan ini tidak benar, hanya sebagai alasan yang sengaja dibuat untuk menutupi kenyataan bahwa orang itu tidak atau belum pernah berhasil karena malas atau tidak tahu caranya untuk berhasil.

(Dari inspirasi Andrie Wongso & Adi W Gunawan & beberapa sumber)

Tidak ada komentar: