Rabu, Maret 21, 2012

MEMPERSALAHKAN TUHAN KARENA NGGAK BISA SUKSES

"Wis tah lah Pak... Lah wong sudah Takdir, mau di apa-apain ya udah begini. Sudah nasibnya"

Sebuah kalimat yang menyesatkan bagi orang yang nggak ingin sukses dan menyerah pada keadaan yang diterimanya. Tidak ada yang bisa merubah nasib kita selain kita sendiri. Pasti! Pernahkah rekan2 temui orang yang sering mengucapkan seperti ini? berlindung dari nama Tuhan, Nasib, takdir atas segala keadaan atau keterpurukan yang dideritanya. Mereka yang percaya pada mitos menyesatkan ini umumnya mempunyai kualitas hidup yang biasa-biasa saja bukan? atau bahkan lebih dibawah yang biasa-biasa? Yang percaya pada mitos itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Mereka selalu melempar tanggung jawab kehidupan mereka kepada pihak lain. Dalam hal ini yang "dipersalahkan" ialah Tuhan.

Kalo mereka tidak berhasil itu sudah suratan, sudah ditentukan oleh Tuhan. If so, alasan ini dibenarkan berarti kita membenarkan bahwa Tuhan itu tidak adil, Tuhan itu tidak pemurah, Tuhan pilih kasih like and dislike pada hambanya, sering membedakan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Huuu... GasWat!

Kalo memang benar Tuhan itu pilih kasih, like & dis like pada hambanya dalam menentukan nasib dia, maka nggak ada pilihan lain selain kita harus "menyuapnya atau menyogoknya". Yuk kita sogok Tuhan kita agar dia memberikan surat keputusan baru, sebuah Decission letter atau promotion letter dirubah ke nasib yang lebih baik.

Huiih... makin ancur.

Kalo kita percaya bahwa nasib itu ditentukan olehNya, lalu buat apa kita susah payah berusaha, buat apa kerja keras sembari belajar ilmu-ilmu baru. Kalo memang sudah nasibnya jelek, ya mbok.. ora usah bekerja, tinggal kan buku-buku, gak usah sekolah da gak usah berusaha dan berdoa. Ngapaiin... lah wong sudah ditetapkan dalam "decission letter" nasib yang gk bisa di ganggu gugat. Paku mati pokoke, sudah ditetapkan dari atas.... dari sononya. Maka segala upaya kita tidak bisa merubah nasib kita.

Sebaliknya kalo kita percaya bahwa nasib kita baik, namun kita tidak berupaya maka hasilnya sama dengan Nol Besar. Tanpa ada upaya dari kita berjuang meningkatkan diri, nasib kita akan selalu sama mulai saat ini sampai kontrak kita hidup didunia ini habis.

Lalu bagaimana jika ada kasus, Ada orang lahir dari keluarga miskin dan mengapa kok sudah miskin lahir cacat lagi? Mengapa orang-orang yang lahir dari keluarga kaya, cantik-cantik, tampan bersih dan sumringah bahagia? Hmm banyak jawaban tentunya tergantung pada kepercayaan kita masing masing ataupun buku-buku yang kita pelajari. Tetapi yang jelas, saya pribadi punya pemahaman sendiri. Mau tahu? kontak saya aja, hehehe....
"ALLAH S.W.T Tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri merubahnya. (Ar-ra'd Ayat 11)"

(Terinspirasi dari buku Adi W Gunawan, Andrie Wongso dan kajian agama Islam di lingkungan sekitar)

Tidak ada komentar: