Kamis, November 10, 2011

NON VALUE ADDED RUMAH SAKIT

Sewaktu saya ke Rumah sakit di sebuah daerah di kota Medan, proses di awali dengan :

1-pendaftaran pasien,

2-menunggu dokter,

3-pemeriksaan dokter,

4-membayar di kasir,

5-menunggu konfirmasi kasir,

6-menghantarkan surat resep ke apotik,

7-menunggu obat,

8-pengambilan obat.

Yang saya amati kali ini ialah hal-hal Non Value Added bagi pelanggan, yaitu hal-hal yang saya tidak mau membayarnya. Diproses pertama, saya menunggu 8 menit untuk antri, 2 menit key in data, 2 menit fotocopy kartu askes, 3 menit untuk menelpon pihak asuransi untuk persetujuan berobat, total waktu tunggu ialah 15 menit.

Di proses kedua, saya menunggu 30 menit untuk antri dokter. Di proses ketiga, pada proses pemeriksaan dokter tidak ada waktu tunggu. Selanjutnya diproses keempat, saya berjalan sejauh 30 meter untuk menuju ke bagian kasir, memakan waktu kurang lebih 2 menit. Di proses keempat, saya antri di kasir, saya menunggu kasir membuat dokumen pembayaran untuk saya tandatangani, total proses pembayaran dan antri di kasir ialah 10 menit.

Diproses keenam, lagi-lagi saya harus berjalan sejauh 50 meter menuju apotik, memakan waktu lebih kurang 2 menit. Diproses ketujuh, saya harus menunggu 10 menit terhadap obat yang saya pesan. Total Waktu yang kemungkinan Non-Value Added yang saya rasakan = 15+30+2+10+2+10 = 69 Menit, padahal proses utama yaitu pemeriksaan dokter hanya 10 menit.

Ada 69 menit berpotensi sebagai non-value added/pemborosan; sesuatu yang kalau saya disuruh bayar untuk menunggu pastilah saya nggak mau, yang disuruh bayar untuk jalan menuju apotik pastilah saya nggak mau bayar. Non-value added, hal yang tidak menambah nilai bagi pelanggan dimana pelanggan tidak mau membayarnya.

Apakah Non-Value Added ini bisa dihilangkan? Tentu butuh kerja keras, investasi teknologi informasi salah satunya dan inovasi-inovasi lainnya untuk mengurangi non value added. Demikian juga pemahaman terhadap jenis-jenis pemborosan beserta sumbernya dan mencapainya zero non value added pun perlu tahapan-tahapan improvement. Mungkin pertama kali setelah dilakukan aksi improvement dari 69 mnt menjadi 59 menit, tahap kedua menjadi 39 menit, dan seterusnya.

Sebagai contoh lain, saat saya dirawat dan pada proses peng-infusan. Kita tahu saat cairan infus kita habis maka proses umum sbb:

1. memencet tombol panggil perawat - 1 menit

2. menunggu perawat datang - 3 menit

3. perawat memeriksa infus kita/ bertanya - 1 menit

4. perawat balik keluar ruangan untuk ambil infus - 4 menit

5. perawat memasang infus - 1 menit

Proses Non Value Added terbesar ialah di proses nomor 2 dan nomor 4 bukan? ya, waktu tunggu sebesar 7 menit. Satu hal yang bisa dilakukan ialah, ada sensor detektor cairan infus (ini sudah ditemukan di LIPI) dimana memberitahukan ke pos perawat bahwa cairan infus habis, sehingga customer tidak perlu lagi memencet tombol panggil dan menghemat waktu lebih kurang 4 menit dengan menghilangkan proses keempat.

Tidak ada komentar: