Selasa, November 22, 2011

GADIS KOREK API

Sebuah dongeng Cerita yang dulu saat SD pernah kubaca, dan sering lihat kawan2 berlatih tuk menyambut natal, biasanya sering dijadikan operet drama disaat perayaan. Sungguh mengharukan. Bulan depan pastinya kawan2 kristiani merayakan natal. Selamat berbahagia. Dari Hans Christian Anderson, tokoh dongeng dari Denmark yang termahsyur. Saya coba terjemahin, moga gak acak kadut tata bahasanya.

Pada suatu malam menjelang natal. Suhu udara begitu dinginnya, salju turun dengan derasnya dan disertai hembusan angin yang kencang. Ada seorang gadis kecil yang telah ditinggal mati oleh Ibunya, dia tinggal bersama Ayah tirinya yang sedang sakit, dan untuk menghidupi Ayahnya, dia berjualan korek api. Tanpa memperdulikan hujan salju dia berjualan sambil berjalan dijalan yang telah diselimuti oleh salju. “Korek api, siapa yang mau membeli korek api” Dia tidak memiliki baju hangat, hanya memakai baju yang sudah kumal dengan kepala dibungkus sebuah syal yang sudah koyak. Kakinya hanya memakai sepasang sandal tua. Dia terus menjajakan korek apinya dijalan, namun di sepanjang perjalanan yang dingin, tidak ada seorangpun yang memperdulikan dagangannya. Disaat semua orang bergembira ria dan sibuk mempersiapkan kado natal, dilain tempat si gadis malang ini hanya mempunyai sekeranjang korek api yang belum laku terjual satupun. Hari menjelang siang, tak satupun korek apinya laku terjual, dan dalam keadaan lelah dan lapar dia terus berjalan dalam hujan salju. Butiran salju jatuh diatas rambutnya yang berwarna keemasan. Sesampai didepan sebuah rumah yang mewah dia berhenti dan memandang kedalam rumah, nampak pohon natal yang dihias dengan indah. Di tempat lain, seorang ibu sedang bermain dengan gembira bersama kedua anaknya. Diatas meja terlihat lilin yang berwarna-warni menyala, ada yang berwarna merah, hijau, putih, ungu, Dia paling suka melihat lilin yang berwarna merah, warnanya sungguh menarik. Melihat keadaan didalam rumah itu, dia teringat akan nenek dan ibunya yang telah tiada yang sangat menyayanginya. Gadis kecil inipun menangis dengan sedih mengingat kenangan itu. Sambil menangis gadis kecil ini berjalan menyusuri jalan yang besar, tiba-tiba sebuah kereta kuda lewat dan hampir menabraknya. Kereta kuda melintas dengan cepatnya, hingga percikan lumpur mengenai bajunya, sandal gadis inipun hilang, sehingga tanpa menggunakan alas kaki dia berjalan diatas salju dan terus berteriak : “Korek api, siapa yang mau beli korek api.” Senja telah tiba, kaki-kaki gadis kecil inipun hampir membeku kedinginan hingga berwarna kebiruan. Saat berjalan dia mencium harumnya daging panggang, menu masakan natal. “Wah, sungguh enak ya jadi orang kaya, mereka sedang mempersiapkan perayaan natal.” Pikir gadis malang ini. Akhirnya dia merasa sudah tidak kuat berjalan lagi, Dia sandarkan badannya pada dinding disebuah pertokoan untuk beristirahat. Dia tidak berani pulang kerumah karena sebatang korek apipun belum laku terjual. Rumah si gadis ini sangat reot, dindingnya penuh lobang hingga angin dingin dapat menembus rumahnya. Sambil bersandar, dia menggigil kedinginan. Dia sangat ingin menghangatkan tubuhnya walaupun hanya sebentar dengan sebatang korek api tapi keinginan itu dia tahan. Beberapa saat kemudian tangannya yang kecil terasa sudah hampir membeku. Sungguh sangat dingin, maka diapun memutuskan untuk menyalakan sebatang korek api menghangatkan tangannya yang sedang membeku. “Sesst “ korek api menyala, dia merasakan sebuah kehangatan menyelimutinya, nyala korek api sungguh menyilaukan, dalam lamunannya dia membayangkan dirinya duduk didekat sebuah tungku api dengan nyala api yang terlihat sangat cantik, terasa hangat, dia bermaksud menjulurkan kedua kakinya kedekat nyala api, tetapi nyala tersebut dengan cepat sudah padam, tungku api lenyap dari pandangannya. Diapun tersadar dari lamunanya, dan melihat hanya bekas sebatang korek api yang sudah habis terbakar ditangannya. Dia kemudian menyalakan kembali sebatang korek api, keluarlah kilau cahaya terang, Dalam kilauan nyala korek api yang memantul didinding, dia melamun melihat sebuah kamar yang didalamnya terdapat sebuah meja makan. Diatasnya terhidang biscuit yang lezat dan daging panggang yang harum, keadaan ini sangat menarik. Tiba-tiba dia melihat daging panggang ini melompat dari piring dan berjalan menuju kearahnya. Dia sodorkan tangannya, dan korek api ini pun segera redup, dan ternyata tangannya hanya meraba dinginnya dinding pertokoan. Dia menyalakan kembali sebatang korek api, nyala korek api berubah menjadi sekuntum cahaya yang berwarna merah jambu. Dia merasa dirinya duduk dibawah sebuah pohon natal besar yang cantik, lebih cantik dari pohon natal yang dilihat tadi siang, Diatas dahannya terdapat ribuan batang lilin kecil yang cantik sedang menyala. Gadis malang ini menyodorkan tangannya ingin memegang lilin-lilin kecil pohon natal, korek api padam lagi. Ribuan batang lilin berubah menjadi bintang-bintang kecil yang terang dilangit. Diantara bintang-bintang itu ada sebuah bintang jatuh ke bumi berubah menjadi sebuah cahaya yang memanjang. Dinyalakannya kembali sebatang lagi korek api. Ah, di nyala api dia melihat nenek yang dirindukan setiap hari, dia melompat ke pelukan neneknya. “Nenek !” teriak gadis kecil ini, “tolong bawa saya pergi nenek! Ke tempat yang tidak dingin, dan banyak terdapat makanan. Saya tahu begitu korek api ini padam, engkau akan menghilang, seperti tungku api itu, daging panggang yang wangi dan pohon natal yang indah, saya akan kehilangan semuanya.” Akhirnya, gadis malang ini menyalakan semua korek api yang tersisa, karena dia sangat ingin menahan neneknya disini terus. Nyala korek api semakin terang, bagaikan disiang hari. Dia melihat neneknya dengan penuh kasih sayang mengangkat tubuhnya kepelukannya, mereka berdua terbang makin lama makin tinggi, terbang kesebuah tempat yang hangat dan tidak akan ada rasa kelaparan lagi. Pada keesokan harinya natal telah tiba, orang-orang disekitar pertokoan melihat gadis malang ini sedang bersandar di dinding pertokoan. Dengan wajah kemerahan dan senyuman bibir bahagia, dia meninggal, meninggal dimalam menjelang natal. Masih tergenggam korek api yang telah terbakar ditangannya. Nah, adik-adik sekalian, jangan sedih ya walaupun gadis malang ini sudah meninggal, tetapi Tuhan sudah menjemputnya kesebuah tempat yang tidak akan ada kedinginan dan kelaparan dan dia akan selamanya bahagia bersama nenek dan ibunya.

Tidak ada komentar: