Kamis, November 10, 2011

DUKUN SI AKBAR

Saat ke Jakarta kemarin, ada pelajaran yg cukup berharga. Bukan pada saat acara acara di Jakartanya melainkan, pada hari Minggu hari kedua di bulan Oktober, tahun 2011 diketinggian 34.000 kaki dari permukaan laut, didalam kabin Lion Air deret kursi nomor 10 menuju pulang Polonia Medan. Waktu awal duduk, Di bangku 16 E dan F ada sepasang suami istri bersama bayi merah umur 1 bulanan. Di bangku 16 D, kusandarkan tubuhku sembari tersenyum manis ke sepasang suami istri tersebut yang terlihat sibuk membenahi posisi duduk mereka.

Saat saya hendak berdoa sambil memejamkan mata, karena baru saja terdengar Pilot berkata "Take off position on station",

tiba-tiba ada suara sopan meminta,

"Pak maaf, bisa bantuin kami gimana ya caranya memasang sabuk pengaman ini?" Suami dari seorang istri yg sedang menggendong bayi meminta.

Saya pun, membantunya hingga ter set sempurna.

"maaf ya Pak, soalnya saya baru kali ini naik pesawat" ujarnya.

Percakapan pun mulai mengalir, mulai dengan memperkenalkan diri, tanya asal usul hingga tentang kelahiran putranya yang bernama Akbar Ramadhan, sebuah nama diambil dari sejarah kelahiran putra mereka di 2 hari sebelum takbir iedul fitri dikumandangkan.

"Saya Tono Pak" jawabnya memperkenalkan diri. Dia sudah 20 tahun tidak pulang ke Tanjung Morawa, tempat kelahirannya dan juga rumah orang tuanya yang hingga kini masih hidup. Pulang membawa anak & istrinya, karena dipanggil orang tuanya agar pulang ke Sumatera Utara tepatnya Tanjung Morawa.

"Jadi pak Tono kapan balik ke Jakarta" tanya ku.

"Wah, belum tahu Pak, kapan pulangnya. Mungkin lama, nunggu si Akbar nya besar" jawabnya. Dia pulang karena diminta oleh orang tuanya agar tinggal di Tanjung Morawa saja.

"Si Akbar, lahirnya lancar ya Pak, berapa Kilo" tanyaku melanjutkan obrolan.

Pak Tono pun menceritakan bahwa proses kelahiran putranya tidak dilakukan di Rumah Sakit, karena mahal. Ke Bidan persalinan, waktu itu rumah bidan jauh dan pas lebaran banyak yang mudik. Kalo ke Rumah sakit, takut biaya tinggi. Maka, dukun lah yang membantu proses kelahiran putranya. "Kalo ke Dokter/ RS biasanya main gampangnya Pak, Selalu lewat Operasi Cessar padahal kan bisa normal, dan pastinya biayanya Mahal" ujarnya. Hal ini menjadi hantu bagi Pak Tono dan keluarga untuk di jauhi karena bakal mempersulit mereka.

"Bapak kerjanya apa di jakarta, kalo boleh tahu?" tanyaku.

"Saya Kuli Pak, Office Boy, dan terkadang ganti-ganti pekerjaan tergantung siapa yg butuh untuk dibantu" Jawabnya.

Tangisan bayi, menghentikan sementara obrolan kami, karena Pak Tono mulai sibuk membuat Susu bagi anak pertamanya. 20 tahun di Jakarta sejak umur 21 tahun merantau dan baru 2 tahun lalu, menikah hingga punya si kecil, titipan Tuhan. "jadi Bapak bakal hidup di Tanjung Morawa ya Pak?" tanyaku.

Pak Tono menjawab " Ya begitulah Pak, mau usaha aja di sana, yang penting halal, bisa membesarkan si kecil ini, kasihan si kecil ini kalo tercemar sama rejeki yg gak bener" ujarnya serius.

Dalam benakku, seorang Office boy berpendidikan SMP yang hidup di rumah sempit 1 kamar ukuran 2 x 3 di dekat kawasan Gandaria City Jakarta masih punya niat tuk senantiasa mendapatkan rezeki yang halal bagi keluarganya. Sebuah kekuatan "Fathers Love", dari Pak Tono dan "Mothers Love" dari sang istri tuk cinta keluarga, dalam suasana negara Indonesia yang bergelimang dengan suasana penggelapan, korupsi dan segudang kegiatan haram yang dilakukan berjama'ah.

Tidak ada komentar: