Jumat, November 25, 2011

AUTONOMOUS MAINTENANCE

Autonomous Maintenance, adalah salah satu bagian utama dari beberapa pilar Total Productive Maintenance (TPM). Filosofi autonomous maintenance yaitu merubah paradigma lama bahwa operator produksi hanyalah pemakai dari mesin sehingga tidak perlu paham dan tidak perlu peduli dengan kerusakan mesin dan kualitas produk yang dihasilkan oleh mesin. Paradigma lama mesin menjadi tanggungjawab dari maintenance sehingga operator produksi cukup dengan memanggil maintenance dan menyerahkan segalanya pada maintenance baik dalam hal kerusakan mesin ataupun reject yang dihasilkan.

Banyak kerugian yang diakibatkan oleh paradigma lama ini yaitu:

Mesin downtime sebenarnya bisa dicegah asalkan dilakukan perawatan mesin yang sederhana seperti pembersihan mesin, inspeksi bagian dari mesin yang hampir aus, pelumasan bagian-bagian tertentu, dan pengencangan komponen yang kendor. Jika operator memahami tentang mesin, maka kesalahan operasi atau fungsional tertentu dari mesin bisa dilakukan pencegahan secara dini.

Jika hal-hal kecil dibiarkan seperti komponen kendor, kotoran yang menumpuk, maka akan berakibat sangat besar. Kondisi mesin akan terlihat kotor karena kurangnya kepedulian operator membersihkan mesin. Ada waktu yang terbuang saat terjadi handover pekerjaan dari operator produksi dan maintenance meskipun itu hanya sekedar kerusakan ringan. Komponen yang sudah mulai rusak, atau bunyi mesin yang aneh dapat dideteksi lebih awal oleh operator

Beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh autonomous maintenance adalah:

Mencegah dan mengurangi lama waktu mesin downtime, Mencegah defect dari proses mesin, Mempercepat penanganan terhadap mesin downtime, Meningkatkan ketahanan mesi, Menjaga mesin dalam kondisi selalu bersih dan prima, Mencegah kerusakan mesin yang lebih parah, Meningkatkan pemahaman operator dan skill tentang mesin, Operator yang memahami dan mampu melakukan perawatan dasar dari mesin, Mengurangi resiko kecelakaan kerja karena operator paham sistem safety dari mesin.

Pada konsep autonomous maintenance, akan terjadi proses transfer ilmu pengetahuan mengenai mesin dari maintenance kepada operator produksi. Konsepnya seperti sekolah AM. Dimana operator akan ditraining mengenai pemahaman dasar tentang mesin, operational mesin, sistem safety mesin, perawatan dasar mesin, sampai ke tahap yang lebih advance lagi tentang mesin. Training dilaksanakan secara bertahap baik dan dilakukan di kelas dan juga praktek langsung ke mesin. Setiap aktivitas diajarkan dan dilatihkan secara bertahap, sampai operator benar-benar paham dan mampu melakukan sendiri. Kelas keahlian akan dibagi menjadi tujuh tahap. Dalam setiap tahapnya akan dilakukan assessment untuk memastikan operator menguasai ketrampilan tersebut. Tahap ketujuh adalah tahapan terakhir dimana operator sudah memiliki kecakapan dalam melakukan perawatan mandiri secara penuh.

Hukum Heinrich.

Heinrich law menggambarkan kondisi mesin. Selama bekerja mesin akan mengalami banyak gangguan. Dari yang kecil hingga yang besar. Bila gangguan kecil pada mesin diatasi maka gangguan besar yang mengakibatkan mesin berhenti sebentar atau bahkan mesin breakdown dapat dicegah. Perbandingan jumlah kerusakan antara yang kecil, sedang dan breakdown adalah 300 : 29 : 1.

Keahlian perawatan dasar yang dibangun adalah kemampuan menjalankan mesin secara benar, membersihkan mesin secara teratur, mengetahui apa saja inspeksi yang harus dicheck pada mesin dan paham kriterianya, mampu memberi pelumasan pada bagian tertentu dari mesin, mengecheck bagian yang rawan terhadap kendor, dan mampu melakukan pengencangan sendiri, melakukan start up mesin dan shutdown mesin dengan benar, mampu melakukan changeover, melakukan pengukuran sendiri terhadap mesin, dan hal-hal lain yang bersifat pencegahan terhadap kerusakan mesin.

Secara fisik, mesin akan terlihat lebih bersih dan dalam kondisi prima. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah restorasi dari mesin untuk mengembalikan mesin pada kondisi paling prima dengan menghilangkan ganjalan dan lainnya. Keuntungan yang diraih oleh operator adalah ilmu tentang mesin akan meningkat dan lebih lancar dalam mengoperationalkan mesin karena mesin dalam kondisi top performance. Secara keseluruhan mesin akan mencapai level availability yang tinggi, performance rate yang optimum, dan kualitas output yang selalu maksimal. Produksi yang menerapkan autonomous maintenance akan terlihat secara visual lebih bersih, dan tanda visual management yang jelas untuk bagian yang perlu dibersihkan, diinspeksi, diberi pelumas, dan dilakukan pengencangan.

Pihak maintenance juga akan menikmati keuntungan yaitu jumlah firefighting karena unplanned downtime yang lebih rendah, perbaikan karena kerusakan ringan akan turun drastis sehingga bisa lebih fokus pada planed maintenance (pemeliharaan yang terjadwal) dan improvement/ inovasi dari mesin. Secara keseluruhan perusahaan akan mengalami peningkatan yang significant dalam hal availability mesin, performance, dan juga kualitas sehingga meningkatkan daya saing global.

Sebelum diterapkan pada lingkungan yang luas di perusahaan sebaiknya terlebih dahulu dicoba pada pilot project. Dipilih satu atau beberapa mesin yang hendak dijadikan pilot project untuk penerapan auotonomus mainetannce. Setelah berhasil dengan pilot project, barulah melangkah ke mesin-mesin lain yang ada di perusahaan.

Hambatan yang sering dirasakan.

"Jika saya operator mesin menguasai maintenancenya mesin ini apakah gaji saya akan naik?" Pasti naik jika ada kebijakan bonus performance QCDSM (Kualitas produk, Cost, Safet, Delivery, Safety, Perilaku semangat kerja karyawan/ morale), dan autonomous maintenance tidak akan sustainable jika tidak didukung hal-hal yang mempertahankan motivasi. Ingat teori Teori Abraham Maslow di posting saya sebelumnya. Tujuan Autonomous maintenence ialah meningkatkan profitabbilitas dan reliabilitas bisnis karena dihadiri oleh para sumberdaya yang multi skill.

"Jika saya operator menguasai maintenance mesin, terus apa fungsi orang maintenance?"Fungsi orang meintenance lebih banyak difokuskan bukan pada pemeliharaan dan pengawasan mesin melainkan digeser ke tugas improvement, inovasi mesin. Termasuk belajar proses operasi.

Bukan hanya hambatan sepele diatas, yang perlu dipikirkan adalah pondasi dari kegiatan Autonomous Maintenance yaitu:

1. Dukungan pelatihan (Waktu, Biaya lembur anggota yang mengganti posisi operator saat ada pelatihan, Biaya pelatihan itu sendiri). Peran manajemen puncak sangat diperlukan disini.

2. Kerjasama satu visi dengan para pemilik proses (Produksi dan Engineering), kunci dengan KPI atau Balance Score Card terutama pada perspektif Learning & Growth. (BSC ada 4 Perspektif, Financial, Customer focus, Internal bisnis, Learning & Growth)

3. Dukungan sertifikasi operator dengan disertai insentif kepemilikan sertifikasi kompetensi.

4. Promosi; pengakuan-pengakuan berupa berita yang dipampang dalam majalah perusahaan atau dinding-dinding perusahaan.

5. Mulai dengan pilot project.

(Besambung)

Tidak ada komentar: