Senin, Januari 17, 2011

Terbakarnya Nissan


Semalam (17 Jan 2011) lihat berita ada Nissan Grand Livina terbakar. (http://twitpic.com/3qvyv4 ). Ada yang mengomentari menyalahkan Nissan, mengatakan mutu mobil Nissan buruk, Tidak Safety dan ada pula yang mereka-reka bahwa ini akibat ulah si pemakai /pelanggan. Mungkin sipelanggan memakai onderdil palsu, pasang kelistrikan yang salah, pasang kabel audio di bengkel murahan, dsb. Tetapi satu hal pastinya si empunya Grand Livina yang berkawan dengan si jago Merah menghangatkan suasana di jalan Layang Tol Slipi (arah ke Tomang) tidak akan rela sang Livinanya dilalap api.

Siapakah yang harus segera menindak lanjuti permasalahan produk Nissan Motor Indonesia ini? Tak pelak ialah si pemegang Brand nyalah yang patut sigap menelusuri mas
alah terbakarnya produk andalan mereka. Bukan melihat siapa yang salah apakah si pemilik mobil ataukah si pabrikan MPV yang sa'at ini cukup melejit namanya, melainkan melihat secara dalam dan menganalisa proses terbakarnya Grand Livina ini. hal yang patut sigap pula, dikhawatirkan terbitnya image calon-calon pelanggan Nissan menyimpulkan si Nissan tak safety yang ku bayangkan. wal hasil kondisi ini bakal buruk, jika situasi masalah terbakarnya MPV ini di jadikan alat perang oleh para kompetitor Nissan.

Image adalah hal yang super duper mahal dan perlu waktu dan darah perjuangan dalam menghadirkan produk bermutu hingga pelanggan mengatakan 'WoW ini yang kumau" karena Mutu ialah WoW. Prof Ishikawa mengatakan mutu ialah kepuasan pelangga
n dan saya nilai lebih jauh lagi mutu ialah pengabdian pelanggan pada produk hingga menuhankan produk yang ia beli. Pada taraf terakhir inilah puncak dari Mutu. Orang bakal mati-matian membela produk yang ia beli sa'at di cemo'oh oleh orang lain. Walaupun faktanya produk yang ia beli telah mengalami masalah, tetapi hatinya masih terpaku pada produk yang ia imani bahwa produk ini kualitasnya tinggi terbaik dari yang lainnya.

Nissan harus memandang masalah ini serius, walaupun secara analisa pareto (yang salah konsep) mengatakan bahwa 80% kerusakan Nissan bukan karena terbakar, frekuensi terbakarnya mobil hanya sedkit. Pareto bukan mengajarkan pada suatu jumlah frekuensi kejadian, melainkan pada suatu yang Vital. Kecilpun jika vital bagi bisnis, maka harus ditindaklanjuti habis habisan, atau Mati pelan pelan tergerus oleh Image yang melelah ke kubang kebangkrutan. Dan jangan menunggu pelanggan meminta tetapi ikhlaskan diri untuk senantiasa mengukur keinginan pelanggan karena siapa yang tidak mengikuti keinginan pelanggan maka pelanggan akan meninggalkan anda. Proactive dan mengedepankan suara pelanggan dan bukan proactive mendengarkan keluhan pelanggan. Pelanggan yang puas paling banter menginformasikan tentang kepuasannya kepada sebanyak 3 orang rata-rata tetapi pelanggan yang tidak puas akan menuangkan kemarahannya minimal kepada 20 orang, dan mungkin lebih banyak lagi dijaman serba cyber ini.



Fardlu ain dalam bisnis, pelanggan tidak akan pernah salah karena kita telah mengantisipasi kesalahan pelanggan (baca: ketidak tahuan pelanggan). Jadikan Voice of Customer sebagai landasan bisnis. Lalu apa yang terjadi manakala Nissan Motor Indonesia melakukan analisa kasus dan ternyata terbakarnya ini akibat kesalahan teknis pemasangan onderdil oleh pelanggan? kembali ke Pasal 1. Pelanggan tak pernah salah. Dalam bisnis, pelanggan pingin dimanja, pelanggan pingin harga murah, pelanggan pingin diperhatikan, pelanggan ingin kejujuran, pelanggan ingin dan lagi lagi pelanggan ingin segala hal yang dimiliki oleh sifat-sifat sang maha Agung. Maha Awet, Maha Hidup, Maha Besar, Maha Cepat, Maha santun, Maha Indah, dsb.

Secara teknis, Mungkin aplikasi Poka Yoke (error profing) atau FMEA (Failure Mode Effect Analysis) berguna dalam hal ini agar Nissan makin berjaya di Bumi Nusantara hingga semua "menuhankan" mobil Nissan. Termasuk juga memuaskan saya selaku pelanggan Nissan. Tulisan ini diwujudkan sebagai kepedulian bagi kita semua akan pentingnya Mutu. Sukses buat Nissan Motor Indonesia (NMI). I love Grand Livina, mulai dari plat BK Medan hingga pindah ke Jakartapun saya lebih memilih membeli sang irit Nissan Grand Livina nan Nyaman.


Tidak ada komentar: