Senin, Maret 26, 2012

SERVANT LEADERSHIP

Kali ini saya meminta pendapat dari atasan saya diperusahaan, Mas Handoko, Dia ramah, cerdas, result oriented dan menjadi salah satu mentor saya. Salah satu yang dalam diskusi kita kala itu ialah tentang kepemimpinan dimana Mas Handoko menguraikan tentang 2 type kepemimpinan yang cukup dikenal di dunia maupun dalam buku-buku kepemimpinan. Type itu ialah mengenai Kepemimpinan melayani (Servant Leadership) dan Kepemimpinan komando (Command leadership).

Sebelum mengarah kepenjelasan beliau, saya coba ingatkan tentang apa yg diajarkan dari Ki hajar Dewantoro bahwa kita hendaknya menjadi Role Model/ teladan bagi pengikut kita, dan saat dalam bagian kelompok atau tim maka kita hendaknya membangun semangat kerjasama/ gotong royong, dan jika kita berada didepan kita menjadi penyokong dan pengikut yang bermartabat.

"Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso,
Tut Wuri Handayani"


Kepemimpinan merupakan hal yang sangat menarik untuk kita pelajari karena selalu menjadi isu sentral di mana pun, baik dalam pemerintahan, agama, bisnis, maupun perusahaan. kepemimpinan mampu mengubah suatu kondisi yang kurang baik atau biasa – biasa saja menjadi jauh lebih baik lagi, maka dari itu kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan sukses atau tidaknya suatu organisasi atau perusahaan.

Kepemimpinan atau yang biasa disebut dengan istilah Leadership sering diartikan sebagai suatu jabatan formal yang pada kenyataannya, justru lebih banyak menuntut untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan dari institusi yang seharusnya dilayani. Dalam dunia karir, kepemimpinan sering diidentikan dengan otorisasi yang tanpa batas dan tidak mengenal toleransi maupun kompromi, di mana seorang pemimpin atau atasan yang memperlakukan para karyawan dan bawahannya dengan sikap yang otoriter. Kita sering mendengar, melihat dan bahkan mungkin mengalaminya di lingkungan kerja kita. Misalnya, seorang atasan yang memaksa para karyawannya untuk menuruti semua kemauannya tanpa pernah mendengarkan atau memperdulikan kebutuhan – kebutuhan karyawannya. Inilah yang dimaksud dengan command leadeship.


Oleh karena itu, dalam suatu organisasi, bisnis, ataupun perusahaan, gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas kerja para karyawannya. Sebenarnya, seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan dapat dilihat dari bagaimana Ia bersikap dan memimpin para karyawannya. Pemimpin harus memiliki integritas. Integritas adalah suatu prinsip yang didasarkan atas karakter, etika, agama, moral yang baik yang menyatakan siapa dia. Karena dia akan menyelaraskan itu melalui cara berpikir, berbicara, bersikap, bertindak dan mengambil keputusan (konsisten). Seseorang yang punya integritas memiliki kehidupan yang terintegrasi.

Di awal tahun 2011, saya mendalami konsep servant leadership, konsep kepemimpinan yang nampaknya sangat cocok untuk konteks Indonesia, di mana konsep lawannya, command-leadership sebagaimana tersebut di atas.

Servant Leadership atau kepemimpinan yang melayani, tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya bukanlah untuk kepentingan pribadi atau golongan, namun lebih kepada kepentingan publik yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus bisa membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya, sehingga bermunculan bibit-bibit pemimpin baru dalam kelompoknya.

Konsep dan gagasan Servant Leadership (Kepemimpinan yang melayani) sebenarnya telah dikenal dari literatur Leadership sejak diperkenalkan dan dipublikasikan oleh Robert Greenleaf (1977). Gerakan ini memperoleh momentum ketika model Servant Leadership diadopsi oleh berbagai perusahaan di ranah bisnis global, seperti Southwest Airlines, Fedex, Service Master, Starbuck dsb. dan telah terbukti bermanfaat dalam meraih kesuksesan, khususnya dalam menghadapi krisis dan persaingan bisnis.
Setelah membaca beberapa artikel jurnal, nilai-nilai yang saya yakini selama ini nampaknya diakomodasi dengan baik dalam konsep kepemimpinan ini. Salah satu bagian yang menarik ditulis di sini adalah perbandingan head to head antara command leadership dan servant leadership.

Berikut ringkasannya dalam tabel:

Command Leadership

Tujuan pemimpin adalah untuk dilayani

Tertarik utamanya pada citra dan capaian pimpinan. Pengamanan diri dan citra diri dikedepankan dalam banyak keputusan.

Kekuasaan jabatan lebih penting daripada tanggungjawab.

Kolega dipandang dan diperlakukan sebagai lebih rendah dan jarang diminta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan diberi informasi yang penting.

Dapat ditemui/diakses hanya oleh orang-orang terdekat dalam struktur.

Menciptakan atmosfer ketergantungan menggunakan kekuasaan jabatan untuk mempengaruhi.

Ingin orang lain mendengarkan pimpinan dulu.

Ingin dipahami dibandingkan memahami.

Menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang terjadi dan tidak mau bertanggungjawab.

Menolak kritik konstruktif dan menginkan pengakuan untuk semua prestasi.

Tidak melatih orang lain supaya dapat berfungsi secara efektif.

Penentuan pengikut didasarkan pada personalitas.

Kemudahan dijadikan dasar pengambilan keputusan secara tertutup.

Menggunakan intimidasi untuk membungkam kritik. Cenderung mempertahankan diri.

Mendapatkan dukungan untuk ide melalui kecurangan, permainan kekuasaan, atau manipulasi. Orang lain mendukungnya karena takut.

Mengangkat orang yang mengikutinya tanpa banyak bertanya dan fleksibel.

Otoritas didasarkan pada kendali eksternal dalam bentuk aturan, batasan, dan regulasi yang dikawal dengan kekuasaan.

Hanya bertanggungjawab pada atasan. Menganggap evaluasi personal sebagai gangguan.

Mengejar kekuasaan dan jabatan.

Tidak berminat dalam mengembangan kompetensi penerus.


Servant Leadership

Tujuan pemimpin adalah untuk melayani

Mendorong bawahan untuk meningkatkan potensinya dengan cara merendah dan menghargai orang lain. Lembaga dan sebagian besar anggotanya dipedulikan dan didahulukan dibandingkan diri sendiri.

Tanggungjawab lebih penting daripada kekuasaan yang melekat pada jabatan.

Kolega diperlakukan dengan hormat sebagai bagian dari tim yang bekerjasama untuk menyelesaikan tugas dan membuat keputusan berdasar informasi yang dipahami bersama.

Sering berinteraksi dengan orang lain dan menjaga atmosfer yang terbuka.

Menciptakan atmosfer di mana orang lain melihat potensinya didorong untuk dikembangkan dan kekuasaan digunakan untuk melayani.

Mau mendengarkan orang lain sebelum mengambil keputusan.

Ingin memahami sebelum dipahami.

Menghargai orang lain, belajar dari kesalahan dan menghargai orang lain.

Mendorong masukan dan umpan balik dan berbagi pengakuan untuk keberhasilan. Proses dianggap lebih penting dibandingkan prestasi.

Membekali orang lain supaya bisa berprestasi.

Penentuan pengikut didasarkan pada karakter,

Prinsip dijadikan dasar pengambilan keputusan secara terbuka.

Menerima dengan baik diskusi terbuka untuk perbaikan. Terbuka untuk belajar dari semua orang.

Mendapatkan dukungan untuk ide melalui logika dan persuasi. Orang lain mendukungnya karena hormat dan mengakuinya sebagai kebenaran.

Mengangkat orang yang sudah menunjukkan kontribusi dalam keberhasilan.

Otoritas didasarkan pada pengaruh yang didapatkan dari dorongan, inspirasi, motivasi, dan persuasi.

Bertanggung ke seluruh lembaga. Menerima evaluasi personal sebagai cara untuk meningkatkan diri.

Mau mengalah jika ada seseorang yang lebih berkualitas.

Pengembangan kepemimpinan sebagai prioritas dalam melayani orang lain.



Akhirnya, hal yang paling sulit untuk dilakukan dalam kepemimpinan yang melayani adalah, banyak orang beranggapan bahwa jika seorang pemimpin mengambil bagian dalam melakukan tugas sederhana dianggap dapat menurunkan kewibawaannya sebagai pemimpin.

Jangan menganggap bahwa merendahkan diri itu hal yang mudah bagi seorang pemimpin. Masyarakat kita saat ini sudah memiliki konsep bahwa yang memimpin adalah bos, sehingga kalau seorang pemimpin mengerjakan tugas sederhana, ini tentu akan dianggap sebagai hal yang aneh.

Dunia mustahil dapat menerima pandangan seperti ini, sebab yang dipandang wajar oleh dunia adalah seorang pemimpin harus menunjukkan kekuasaannya atas orang yang dipimpinnya. Perlu diingat bahwa dalam konsep "pemimpin pelayan" yang menjadi tekanan bukanlah aspek "pemimpin" namun aspek "pelayan". Pemimpin pelayan bukan pemimpin yang melayani, tetapi pelayan yang memimpin.


Anda pilih mana, servant atau command? Saya hanya mengabarkan, Anda yang menentukan. Yang jelas, dalam servant leadership tidak akan ada ungkapan ”hanya karyawan kecil”. Semua dianggap mempunyai konstribusi dalam jalan dan keberhasilan sebuah organisasi. Andakah servant leader itu?

Daftar pustaka : berbagai makalah dan sumber di internet

Tidak ada komentar: